Berhenti Terjebak Standar Tinggi, Mulailah Berpikir Positif

Ilustrasi seseorang yang stres dan kelelahan./Freepik


narastaari.com, Depok - Suatu hal yang jarang dibicarakan, tapi banyak kita alami yaitu rasa lelah selalu menaruh ekspektasi pada diri sendiri. Kita mendorong diri untuk terus “berkembang”, terus “berprestasi”, terus “meningkatkan kualitas diri”. Namun, di balik dorongan ada yang tumbuh diam-diam di pikiran.

Timbul rasa bersalah karena gagal, malu karena tak secepat orang lain, jijik karena tak sekuat harapan sendiri. Masalahnya bukan karena kita kurang usaha.

Masalahnya, standar yang dibentuk sejak kecil dari sekolah, keluarga, lingkungan, bahkan media sosial membuat kita sulit merasa cukup. Kita seolah hanya pantas dipuji jika berhasil. Dan ketika gagal, kita menjadi musuh bagi diri sendiri.

Dalam diam, kita menghukum diri dengan kalimat-kalimat yang mungkin tak akan kita ucapkan pada orang lain: “aku gagal”, “aku lemah”, “aku tidak layak”.

Perbuatan tersebut bisa menjadi pola berbahaya. Menurut saya, kita sedang menghadapi generasi yang terbiasa membandingkan diri, tapi tak pernah diajarkan cara menerima diri. Ini disebut oleh psikolog klinis Tara de Thouars dalam Kompas.com (2021) sebagai tekanan psikologis akibat standar tak realistis yang dibiarkan oleh diri sendiri.

Dampaknya? Bisa Sampai Depresi Ringan.
Pikiran negatif yang terus terulang meski terdengar seperti hal sepele dapat menjadi pintu masuk gangguan kecemasan, kelelahan mental, bahkan depresi ringan yang terpendam.

Melansir dari Kementerian Kesehatan RI (2022), suara negatif dalam kepala yang terus diulang bisa menurunkan kepercayaan diri, membuat seseorang ragu mengambil keputusan, bahkan kehilangan motivasi hidup secara perlahan. Namun pada kenyataannya, orang dengan senyum paling ramah bisa jadi adalah orang yang paling keras terhadap dirinya sendiri.

Saya menyadari bahwa tak mudah melepaskan diri dari kebiasaan semacam ini. Ada rasa malu saat tidak mencapai ekspektasi, apalagi jika itu ekspektasi yang kita tanam sendiri. Saya sendiri pernah berada dalam fase itu. Membenci diri karena merasa tidak cukup “berhasil” ketika membuat proyek pribadi. Padahal, keberhasilan hanya akan dianggap oleh diri saya sendiri.

Sejak itu, saya berpikir mau sampai kapan merasa harus jadi orang yang “lebih”?. Toh, nantinya saya akan terus belajar untuk merasa puas atas kerja keras saya.

Solusinya Mudah.
Menurut saya, yang kita butuh bukan kata-kata “kamu hebat!” atau “semangat terus!” yang diulang tanpa konteks. Yang kita butuh adalah kejujuran untuk mengakui bahwa kita berguna. Bahwa kita boleh gagal, kecewa, bahkan kecewa pada diri sendiri. Asal jangan larut.

Penerapan yang jujur, bukan afirmasi palsu, adalah awal dari pemulihan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menciptakan ruang aman bagi diri sendiri. Kita harus berhenti menyiksa diri dengan membandingkan, memberi waktu untuk merenung.

Kemudian kita bisa menulis jurnal untuk mendengar isi kepala sendiri. Melansir dari artikel Tirto.id (2020), psikolog Liza Marielly Djaprie menyebut pentingnya membangun self-awareness dan menerima bahwa tidak semua rencana akan berjalan sesuai skenario. Dan itu tidak apa-apa.

Menurut saya, menerima diri bukan akhir dari perjalanan, tapi fondasi yang sehat untuk perlahan melangkah. Karena yang paling menyakitkan bukanlah kegagalan di mata orang lain, melainkan penghakiman yang kita bisikkan sendiri ketika tak ada yang melihat.

narasi lestari

Halo, pembaca. Perkenalkan, saya Selvi Anitha Lestari, mahasiswa Program Studi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta. Melalui blog Narastari, saya berupaya menyajikan informasi yang terkini, akurat, dan bernilai bagi pembaca. Apabila Anda menyukai tulisan-tulisan di blog ini, jangan ragu untuk mengikuti saya. Selamat menikmati bacaan Anda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama