Coba bayangkan seorang balita berdiri di dapur, menggenggam panci nasi yang lebih besar dari kedua tangannya. Kompor di hadapannya, dan dengan polos ia ingin menyalakannya. Menurutmu, apa yang sedang terjadi? Aku pernah menjadi balita itu.
Cerita ini bukan kenangan yang aku simpan dalam ingatan. Mama yang selalu menceritakannya ulang padaku, seakan-akan mengingatkan bahwa masa kecilku tak seperti anak kebanyakan. Katanya, di usia dua atau tiga tahun aku pernah mencoba memasak nasi sendiri.
Waktu itu, ibuku sedang bekerja di luar kota. Maka semua urusan rumah dan anak diambil alih ayahku. Tapi, ayahku bukanlah tipe yang telaten mengurus rumah, apalagi menjaga anak kecil. Hari-hariku berjalan apa adanya, dan dalam kondisi itu aku mencoba bertahan dengan caraku sendiri.
Tetangga yang melihatku berdiri di dapur langsung berteriak dari luar. Dengan logat khas Sunda, aku membayangkan bagaimana suaranya terdengar begitu panik.
“Eh Ang, eta anakna rek nyangu! Euh, teu diurusan maneh mah!”
Yang jika diterjemahkan artinya: “Ang, itu anaknya mau masak nasi. Haduh, tidak diurusin kamu mah!”
Aku tidak tahu bagaimana wajah ayahku saat itu—apakah ia merasa bersalah atau hanya diam menahan malu. Yang aku tahu, ia dimarahi tetangga karena dianggap lalai. Tapi di balik itu, aku adalah anak kecil yang tak ingin menunggu. Aku lapar, aku ingin nasi, dan aku mencoba membuatnya sendiri.
Aku membayangkan bagaimana tubuh mungilku berdiri di dapur yang dingin, tangan kecilku membuka panci, menuang beras dengan canggung, lalu berusaha menyalakan api. Bayangan itu membuatku ingin tertawa sekarang, tetapi mungkin dulu terasa getir bagi orang-orang yang melihatnya.
Lucunya, jika aku melihat diriku saat ini yang terbiasa mandiri, bisa hidup sendiri tanpa banyak mengandalkan orang lain, mungkin akarnya berasal dari momen kecil itu. Seolah kemandirian tumbuh begitu cepat, bahkan sebelum aku paham arti kata “mandiri” itu sendiri.
Aku tidak pernah menyalahkan ayah. Bagiku, ia bukan ayah yang sempurna, tapi siapa sih yang benar-benar siap ketika harus mengurus anak seorang diri? Apalagi di masa ketika laki-laki dianggap cukup mencari nafkah tanpa perlu banyak hadir di urusan rumah tangga. Mungkin ayahku pun hanya sedang berusaha, dengan cara yang ia tahu.
Namun, satu pertanyaan kadang singgah di benakku: masa iya seorang anak harus belajar mandiri di usia yang seharusnya penuh dengan dekapan dan perhatian? Masa golden age yang mestinya dipenuhi rasa aman, justru aku jalani dengan rasa lapar dan keberanian kecil untuk menyalakan kompor.
Kenangan ini buat sebagian orang mungkin terdengar lucu, bahkan konyol. Tapi bagiku, ia menyimpan arti yang dalam. Bahwa kemandirian yang aku punya hari ini, mungkin berasal dari sebuah peristiwa pahit yang membuatku tertawa setiap kali mengingatnya: seorang balita yang mencoba memasak nasi karena tak ada yang benar-benar menjaga.
Dan sampai sekarang, aku tetap percaya, dari kekurangan ayah justru aku belajar bertahan. Dari ketidakhadiran, aku belajar berdiri. Dari dapur kecil itu, aku mengenal arti kemandirian.
Tags
FEATURE