narastaari.com, Depok - Main game itu menyenangkan. Bisa jadi hiburan, tempat pelarian dari rutinitas, bahkan cara untuk kumpul bareng teman-teman secara virtual. Tapi pernah nggak kamu ngerasa kesal karena kalah, lalu terus main sampai larut malam demi “balas dendam”, dan malah jadi makin capek?
Saya pernah ada di fase itu. Main game sampai larut malam, lalu kesal karena kalah, dan terus main lagi karena pengen buktiin kalau saya bisa. Tapi bukannya puas, saya malah makin stres. Rasanya kepala panas, jantung berdebar, dan mulai kepikiran: “Kenapa sih aku nggak sejago mereka?”.
Fakta Ilmiah yang Bikin Merinding
Bukan cuma saya yang ngerasain. Sebuah meta-analisis dalam Psychological Bulletin (2025) menganalisis 117 penelitian dengan total 292.000 anak dari berbagai negara. Hasilnya mengejutkan: penggunaan gawai berlebihan terutama untuk bermain game bisa memicu kecemasan, depresi, bahkan perilaku agresif.
Penelitian dari Frontiers in Psychiatry (2023) juga menyebut pemain yang menghabiskan waktu lebih dari 4 jam per hari untuk game kompetitif punya risiko lebih tinggi mengalami gejala kecemasan. Alasannya? Sistem saraf kita masuk mode “fight or flight” terus-menerus — jantung berdebar, napas cepat, otot tegang — dan ini bikin otak terus siaga seolah sedang menghadapi bahaya.
Beban yang Kita Pasang Sendiri
Masalahnya, tekanan itu sering datang bukan hanya dari game, tapi dari diri sendiri. Saya jadi inget tulisan psikolog klinis Tara de Thouars yang bilang bahwa kita hidup di generasi yang terbiasa membandingkan diri tapi nggak pernah diajarin menerima diri. Jadi ketika kalah, kita merasa gagal sebagai individu, bukan cuma gagal dalam game.
Saya pun sempat menghukum diri dengan pikiran seperti, “Aku cupu banget,” atau “Kenapa sih nggak bisa menang?”. Padahal itu cuma permainan. Tapi karena standar saya terlalu tinggi, setiap kekalahan terasa seperti pukulan ke harga diri.
Belajar Lepas dari Tekanan
Menurut saya, yang kita butuhkan bukan sekadar motivasi ala “ayo semangat push rank!”, tapi kemampuan untuk menerima bahwa kalah itu normal. Psikolog Liza Marielly Djaprie (Tirto.id, 2020) menyarankan untuk membangun self-awareness — sadar kapan kita perlu berhenti, dan belajar melihat kegagalan sebagai bagian dari proses.
Beberapa hal yang membantu saya:
- Batasi waktu main. Saya sekarang pasang timer 2-3 jam sehari.
- Jeda setelah kalah. Bukan langsung klik “play again”, tapi tarik napas, minum, atau jalan sebentar.
- Jurnal emosi. Saya tulis apa yang saya rasakan setelah main. Ini bikin saya sadar kapan game bikin senang dan kapan malah bikin stres.
- Cari interaksi di dunia nyata. Sekadar ngobrol dengan teman atau keluarga bisa bikin pikiran lebih ringan.
Game itu asyik, tapi jangan sampai bikin kita jadi musuh untuk diri sendiri. Kalah bukan akhir dunia. Justru dari kalah kita belajar — belajar strategi baru, belajar sabar, dan belajar menerima bahwa nggak semua hal harus kita menangkan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan berapa banyak piala digital yang kita kumpulkan, tapi bagaimana kita tetap sehat, bahagia, dan bisa tertawa meski kalah di layar.
Tags
OPINI