Namun, menurut dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, spesialis kedokteran jiwa, toxic relationship saat pacaran justru cenderung berlanjut, bahkan memburuk, setelah menikah. Hal ini disampaikan dr. Elvine dalam Podcast Boss Mama episode 18.
Red Flag yang Diabaikan Saat Pacaran
Saat masih pacaran, tanda-tanda berbahaya (red flag maupun yellow flag) sering kali sudah terlihat. Misalnya:
-
Selingkuh berulang kali.
-
Tidak stabil secara finansial.
-
Agresif, baik secara emosional maupun fisik.
-
Tidak bisa disalahkan, selalu mencari pembenaran.
Sayangnya, karena rasa cinta, harapan, atau sifat pemaaf, banyak orang memilih bertahan. Ada keinginan untuk percaya pada “dongeng” bahwa pasangan akan berubah setelah menikah.
Realita Setelah Menikah
Dalam pernikahan, sifat asli seseorang justru lebih terlihat. Jika saat pacaran saja sudah sulit diandalkan, setelah menikah masalahnya bisa makin kompleks:
-
Tidak bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
-
Adiksi seperti judi online atau pinjol, yang merusak stabilitas keuangan.
-
Tidak ada perencanaan finansial, sehingga rumah tangga jadi kacau.
Selain itu, pernikahan juga mempertemukan dua keluarga besar. Bila mertua ikut campur dan pasangan tidak mampu bersikap tegas, masalah akan bertambah. Hubungan yang awalnya sudah rapuh makin rentan hancur.
Anak Bukan Solusi
Banyak pasangan berpikir kehadiran anak bisa menyelamatkan rumah tangga. Padahal, jika fondasi hubungan sudah tidak sehat, anak justru berpotensi menjadi korban dalam konflik tersebut.
Menyadari dan Berani Bertindak
Pesan penting dari dr. Elvine adalah: jangan menutup mata terhadap tanda-tanda toxic relationship sejak masa pacaran. Jangan berharap pernikahan bisa menyembuhkan luka atau mengubah sifat seseorang yang tidak mau berubah.
“Kalau pacaran aja udah penuh masalah, jangan berharap setelah menikah akan lebih baik. Justru sifat asli makin terlihat,” – dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, dalam Podcast Boss Mama episode 18.
Red flag seperti perselingkuhan, sikap agresif, hingga ketidakstabilan finansial seharusnya tidak diabaikan dengan harapan akan berubah setelah menikah. Pesan ini menjadi pengingat bagi pembaca agar lebih berhati-hati dan bijak dalam menjalin hubungan, serta menempatkan kesehatan emosional dan masa depan sebagai prioritas utama.