Kursi Kayu Ayah di Pojok Kelas: Awal Mimpiku Bersekolah

Ilustrasi anak yang sedang duduk bersama kedua temannya di kelas/Selvi Anitha Lestari-Gemini AI

narastaari.com, Depok - Seorang anak kecil merengek tak henti-hentinya, bukan karena ingin mainan baru, bukan pula karena ingin diajak jalan-jalan. Ia hanya ingin satu hal: sekolah. Anak itu adalah aku.

Aku masih ingat betul bagaimana tetangga-tetanggaku yang lebih tua sudah mulai berangkat setiap pagi, memakai seragam, membawa buku, dan melangkah ke ruang kelas. Ada sesuatu yang membuatku iri, seolah sekolah adalah dunia besar yang harus segera kurasakan.

Ibuku sering berkata bahwa aku seperti membawa naluri yang tak sempat ia jalani. Ia mencintai pendidikan, tetapi jalannya tidak membawanya sejauh itu. Maka, mungkin rasa hausku terhadap sekolah adalah warisan diam-diam darinya—naluri yang tertanam di dalam darahku sendiri.

Karena rengekanku tak kunjung berhenti, akhirnya aku diizinkan ikut duduk di sebuah kelas, meski usiaku belum cukup. Aku ditempatkan di pojok belakang bersama dua teman perempuan. Kursi untukku bahkan tidak tersedia.

Ayah lalu membuatkan sebuah kursi kayu kecil dengan tangannya sendiri. Kursi sederhana itu bagiku seperti tahta. Dari sana aku bisa melihat papan tulis, mendengar suara kapur, dan menyaksikan anak-anak lain belajar membaca serta berhitung. Aku bahkan belum paham semuanya, tapi aku tahu betul: aku bahagia.

Kata ibu, setiap aku berangkat sekolah aku selalu terlihat lucu dengan pakaian yang seadanya. Ia tak mengingat detailnya, hanya bilang, “kamu itu lucu sekali waktu sekolah dulu.” Dan mungkin benar, seorang anak mungil duduk di kursi kayu buatan ayah di pojok kelas tentu pemandangan yang mengundang senyum siapa saja.

Beberapa tahun kemudian, ada kenangan lain yang menempel kuat di kepalaku. Setiap kali melewati sebuah universitas dari jendela angkot, aku menunjuk ke arah gedung tinggi itu sambil berkata kepada ibu, “Ma, nanti aku kuliah di sana ya.” Ia tersenyum lembut dan menjawab, “Iya, berdoa ya.”

Aku memang tidak berakhir di universitas yang kutunjuk waktu kecil. Tetapi aku sampai di bangku kuliah juga, menempuh pendidikan yang dulu hanya bisa kubayangkan dari balik jendela. Doa ibu menuntunku ke sana dengan cara yang mungkin tidak pernah kuprediksi.

Kini, ketika aku mengenang dua momen itu—kursi kayu buatan ayah dan ucapan polosku di angkot—aku merasa ada benang merah yang tak lekang waktu: aku selalu ingin belajar, bahkan sebelum waktunya tiba. Dan di balik itu semua, ada ibu yang menjadi harapan terbesarku.

Aku tahu, aku bukan anak jenius. Aku biasa saja. Tetapi ibu selalu percaya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang kepintaran, melainkan kesungguhan. Dari ibu aku belajar untuk tidak menyerah, untuk tetap menaruh harapan pada pendidikan sebagai jalan mengubah hidup.

Bagi sebagian orang, kenangan masa kecil ini mungkin sederhana. Tapi bagiku, mereka adalah tonggak awal perjalanan—perjalanan seorang anak biasa yang berusaha menjadi orang berhasil, demi doa dan senyum ibunya.

narasi lestari

Halo, pembaca. Perkenalkan, saya Selvi Anitha Lestari, mahasiswa Program Studi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta. Melalui blog Narastari, saya berupaya menyajikan informasi yang terkini, akurat, dan bernilai bagi pembaca. Apabila Anda menyukai tulisan-tulisan di blog ini, jangan ragu untuk mengikuti saya. Selamat menikmati bacaan Anda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama