Murid yang Membuat Seorang Guru Menangis

Ilustrasi sekolah/Dokumentasi Pribadi


narastaari.com, Depok - Coba bayangkan gurumu meninggalkan kelas karena tak kuasa menangis. Menurutmu apa yang terjadi? Aku melihat kejadian buruk yang dilakukan teman-temanku terhadap guru hingga membuatnya menangis.

Di sekolah menengah pertamaku, seorang guru yang mengajar pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ia adalah seorang perempuan. Tubuhnya bahkan lebih pendek dari sebagian besar muridnya, ia sudah tua dan tubuhnya agak bungkuk. Ketika berbicara akan membuat kita yang mendengar harus membuka telinga selebar-lebarnya.

Suara pelannya itu selalu ada ketika pelajaran dilaksanakan. Cara ia mengajarkan materi dengan menjelaskan secara perlahan. Sungguh, aku harap bisa mendengarkan secara jelas karena suasana kelas cukup bising.

Menurutku sikap teman-teman menunjukkan mereka tak menyukai guru tersebut. Mereka punya panggilan khusus untuknya, yaitu “batila”. Aku mencari tahu artinya karena penasaran, namun aku kecewa setelah mengetahui apa maknanya. Dalam Islam, batila adalah tidak terpakai, tidak berfaedah, rusak dan sia-sia. Apakah mereka mengejek guru dengan sesuatu yang buruk? Atau ada maksud lain?

Aku tak terlalu mengenal teman-temanku secara dekat, terutama mereka yang kerap kali bersikap tak sopan kepada guru. Sebagian besar dari mereka adalah murid laki-laki yang suka bergerombol. Mereka seperti memiliki dunia sendiri di dalam kelas, dunia yang tak tersentuh oleh aturan atau rasa hormat kepada guru.

Perilaku mereka seperti mengabaikan guru, membuat keributan, lalu menyebarkan sikap acuh. Aku hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, tak cukup berani untuk menegur, tapi juga tidak nyaman berada di situasinya.

Tak jarang, aku sendiri pun mendapat perlakuan tak mengenakkan dari mereka. Aku merasa kesal, tapi juga tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, di tengah sikap yang tak terkendali dari murid-murid, guru itu tetap hadir di kelas dengan senyuman lembut dan suara yang pelan, seolah tak ingin menyakiti siapa pun bahkan dengan nada suaranya.

Aku memang tak akan pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan guru dalam hatinya. Mungkin luka, kecewa, atau kelelahan tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa kesabarannya dalam menghadapi murid-murid yang terus bersikap tidak hormat itu sungguh luar biasa.

Siang itu, aku sedang berbincang dengan teman-teman dekatku sambil menunggu jam pelajaran Pendidikan Agama Islam dimulai. Satu murid laki-laki kelasku masuk dengan berlari dan menyebut “Ada batila! ada batila”. Kemudian guru itu masuk, ia menduduki kursinya dan kelas dimulai.

Seingatku setiap pelajaran itu pasti suasana bising, suara bincang-bincang dari sekelilingku masuk ke gendang telingaku dan berkumpul di sana. Aku merasa sulit mendengar suara guru yang rasanya semakin mengecil. Mengapa suara pelan guru justru membuatnya tak dianggap?

Terdengar di telingaku perbincangan yang terjadi adalah menyebut kata “batila”, itu adalah sekelompok temanku yang biasa memanggil guru dengan sebutan itu. Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa maksud mereka menyebut "batila" bukanlah candaan biasa, melainkan upaya terang-terangan untuk mengejek dan merendahkan, padahal saat itu pelajaran masih berlangsung dan guru sedang berusaha mengajar.

Guru itu tak menanggapi panggilan-panggilan, ia memukul meja dengan penghapus papan tulis ke meja. Dentuman penghapus yang membentur meja itu hanyalah isyarat bagai riak kecil di tengah badai yang tak mampu meredakan kebisingan.

Guru mengakhiri kelas lebih cepat dari biasanya, dan aku melihatnya berdiri sambil mengucapkan salam penutup dengan suara lirih yang nyaris tenggelam oleh kebisingan kelas, seolah menahan sesuatu yang sedang ia pendam.

Aku kebingungan mengapa kelas berakhir cepat. Kulihat raut wajah guru seperti ingin marah. Tubuhnya berdiri dan berjalan ke arah luar kelas. Aku mendengar “batila mau ke mana itu?” dan “ngambek tuh ya” dari sekelilingku.

Teman kelasku menghampiri guru dan kembali ke kelas memberitahu bahwa guru menangis, katanya ia tak tahan mendapat sikap tak baik dari muridnya. Perkataan yang dilontarkan oleh sekelompok temanku juga menjadi alasan. Aku merenungkan sikapku dan teman kelas yang sibuk dengan urusan masing-masing dan menghiraukan guru saat mengajar.

Guru sebaik itu, dengan suara pelan dan sikap lembut tak pantas mendapat julukan yang bermakna buruk. Sebuah julukan yang terdengar sepele di telinga, ternyata bisa menoreh luka halus yang meresap diam-diam ke hati, lebih dalam dari sembilu yang kasat mata.

Hingga kini, aku masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya tujuan mereka mengejek guru seperti itu? Karena yang ku tahu adab dan etika sebuah hal yang penting dalam pendidikan, tanpa adanya sikap menghormati terhadap guru akan menyianyiakan ilmu yang diberikannya.

narasi lestari

Halo, pembaca. Perkenalkan, saya Selvi Anitha Lestari, mahasiswa Program Studi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta. Melalui blog Narastari, saya berupaya menyajikan informasi yang terkini, akurat, dan bernilai bagi pembaca. Apabila Anda menyukai tulisan-tulisan di blog ini, jangan ragu untuk mengikuti saya. Selamat menikmati bacaan Anda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama