Literasi Digital: Ini Tujuh Langkah Kritis Membaca Berita agar Terhindar Hoax di Media Sosial!

Literasi Digital: Ini Tujuh Langkah Kritis Membaca Berita agar Terhindar Hoax di Media Sosial! (Foto: Freepik.com/rawpixel.com)

narastaari.com, Depok - Media sosial bukan lagi sebatas untuk membagikan hal pribadi ataupun berkomunikasi jarak jauh. Media pemberitaan saat ini juga tengah meluas di media sosial.

Tumbuhnya wadah pemberitaan di media sosial memungkinkan Anda merasakan kemudahan mencari informasi hingga berita terkini di sekitar. Namun, setiap informasi yang muncul di media sosial itu tidak benar sepenuhnya.

Maraknya informasi yang tidak benar ini menuntut kita untuk lebih jeli. Untuk itu, penting bagi Anda untuk mengenali jenis-jenis kesalahan informasi yang beredar.

1. Ketahui Disinformasi, Misinformasi, dan Malinformasi 
Perlu diketahui, ada 3 macam kesalahan informasi yang bisa tersebar di media sosial. 

Pertama, disinformasi, yaitu informasi keliru yang sengaja disebarkan untuk menyebarkan rumor atau memanipulasi orang banyak.

Kedua, misinformasi, yaitu informasi keliru yang tanpa sengaja tersebar. Biasanya kesalahan terjadi pada pengetikan, pengutipan, dan pencantuman keterangan yang berasal dari kecerobohan pengirim.

Ketiga, malinformasi, informasi benar atau asli tetapi disebarkan dengan niat menyesatkan. Informasinya akan merugikan pihak lain, seperti pembocoran data prihadi, pelecehan, dan ujaran kebencian. 

2. Cek Fakta
Diadaptasi dari komdigi.co.id, cara mengenali berita yang tidak terpercaya dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. 

Pertama, cek URL situs tersebut—alamat yang tampak janggal seperti com.co biasanya tidak dapat dipercaya. Situs resmi umumnya memiliki halaman About atau Contact yang jelas berisi informasi redaksi atau lembaga. 

Selain itu, penting untuk melihat sumber beritanya. Berdasarkan riset Mastel, media sosial menjadi sarana terbesar penyebaran hoaks dengan persentase mencapai 31,9% melalui platform seperti Facebook dan Twitter. 

Terakhir, waspadalah terhadap judul yang memancing emosi. Judul yang provokatif, hiperbola, atau terdengar terlalu aneh sering menjadi ciri berita palsu. Jika isi beritanya terasa tidak masuk akal, besar kemungkinan informasi tersebut memang tidak benar.

3. Verifikasi Keaslian Foto dan Video
Hoaks di Indonesia seringkali diperkuat dengan visual yang meyakinkan, padahal foto atau video itu diambil dari konteks yang salah. Foto dari kejadian gempa di negara lain bisa saja dipakai untuk berita gempa lokal.

Gunakan fitur reverse image search (seperti Google Images) untuk mengecek asal muasal foto tersebut dan di mana saja foto itu pernah dimuat sebelumnya.

4. Periksa Kesesuaian Judul dengan Isi Berita
Ini adalah jebakan clickbait yang paling umum. Seringkali, judul yang provokatif (Langkah 3) sama sekali tidak relevan dengan isi beritanya. Selalu baca keseluruhan artikel, jangan hanya berhenti di judul atau paragraf pertama. Jika isinya melenceng jauh dari judul, kredibilitas berita itu patut dipertanyakan.

5. Bandingkan dengan Media Kredibel Lain
Jika sebuah berita besar dan heboh hanya muncul di satu situs web antah-berantah, tapi tidak diberitakan oleh media arus utama yang kredibel, kemungkinan informasi tersebut adalah hoaks. Berita yang benar pasti akan diverifikasi dan dilaporkan oleh banyak sumber tepercaya.

6. Pahami Echo Chamber dan Filter Bubble
Sadari bahwa ada tantangan dalam platform media sosial itu sendiri. Fenomena Echo Chamber, ruang lingkup tertutup yang hanya bisa Anda lihat dan interaksi dengan orang-orang yang Anda minati.

Selain itu, Filter Bubble (gelembung filter) adalah hasil algoritma media sosial yang dipersonalisasikan untuk Anda. Platform akan menyajikan konten dari riwayat tonton, sukai, komentar, hingga dibagikan.

Kedua hal ini bisa menjadi berbahaya jika sebuah misinformasi atau disinformasi berhasil masuk ke dalam "gelembung" Anda, informasi itu akan terlihat seperti kebenaran mutlak yang disetujui semua orang.

7. Tidak Menyebarkan Hoax
Langkah terpenting dalam menghindari penyebaran dan menerima hoax adalah dengan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.

Ketika Anda menerima informasi, saring terlebih dahulu dengan pertanyaan kritis seperti:
  1. Apakah saya yakin 100% informasi ini benar?
  2. Apakah sumbernya jelas dan kredibel?
  3. Apakah informasi ini bermanfaat, atau justru bisa memicu kepanikan dan kebencian?

Anda bisa menutus penyebaran hoax saat menemukan keraguan atas jawaban pertanyaan tersebut.

Melalui langkah kritis di atas, Anda bisa menghindari pemberitaan palsu di media sosial. Dengan bijak memilah berita, akan tercipta literasi digital yang sehat.**

narasi lestari

Halo, pembaca. Perkenalkan, saya Selvi Anitha Lestari, mahasiswa Program Studi Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta. Melalui blog Narastari, saya berupaya menyajikan informasi yang terkini, akurat, dan bernilai bagi pembaca. Apabila Anda menyukai tulisan-tulisan di blog ini, jangan ragu untuk mengikuti saya. Selamat menikmati bacaan Anda.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama