22 November Momen Nostalgia Pop Culture: 30 Tahun Toy Story, Pertaruhan Steve Jobs yang Mengubah Sejarah Animasi (Foto: toystory.disney.com/)
Tepat 30 tahun silam, Toy Story dirilis perdana di bioskop Amerika Serikat. Kehadirannya bukan sekadar film baru, melainkan revolusi yang mengubah wajah hiburan selamanya.
Film yang mengisahkan persahabatan ikonik antara boneka koboi Woody dan penjelajah luar angkasa Buzz Lightyear ini, tercatat sebagai film panjang pertama yang sepenuhnya diproduksi menggunakan animasi komputer (CGI).
Pencapaian teknis ini secara efektif mengakhiri era dominasi animasi gambar tangan (sel) yang telah bertahan puluhan tahun.
Melansir laman Steve Jobs Archive, peringatan 30 tahun ini bukan hanya tentang kesuksesan sebuah waralaba. Ini adalah pembuktian visi jangka panjang tentang paduan teknologi dan seni dalam menciptakan narasi abadi.
Dari Kegagalan Hardware Menuju Keajaiban Sinema
Sebelum menjadi raksasa animasi seperti hari ini, Pixar memiliki awal perjalanan yang berliku dan penuh ketidakpastian.
Mengutip Biography, kisah ini bermula saat Steve Jobs—usai hengkang dari Apple pada 1985—mengakuisisi divisi grafis komputer milik Lucasfilm senilai 10 juta dolar AS.
Kala itu, Jobs tidak membayangkan Pixar sebagai studio film. Perusahaan ini awalnya hanya berisi campuran teknisi dan seniman yang fokus menjual produk perangkat keras canggih, Pixar Image Computer.
Sayangnya, produk tersebut gagal di pasaran. Dengan harga fantastis mencapai 135.000 dolar AS, penjualannya mandek dan hanya diminati segelintir rumah sakit serta badan intelijen.
Namun, di tengah himpitan finansial, divisi animasi kecil yang dipimpin John Lasseter terus menjaga "nyawa" kreatif perusahaan.
Melansir EDN, film pendek dua menit berjudul Luxo Jr. (1986) menjadi titik terang pertama. Film yang menampilkan interaksi dua lampu meja ini sukses meraih nominasi Oscar dan membuktikan potensi emosional dari animasi komputer.
Pertaruhan Besar dan Strategi IPO Steve Jobs
Titik balik sesungguhnya terjadi pada awal dekade 90-an. Disney mulai melirik untuk membiayai film fitur pertama Pixar.
Steve Jobs, yang selama bertahun-tahun menopang operasional Pixar dengan uang pribadinya hingga 50 juta dolar AS, melihat celah emas.
Dalam arsip wawancara Steve Jobs Archive, terungkap strategi bisnis Jobs yang berisiko tinggi. Ia menjadwalkan penawaran umum perdana (IPO) saham Pixar tepat satu minggu setelah Toy Story rilis pada November 1995.
Nasib perusahaan digantungkan sepenuhnya pada performa box office di akhir pekan pembukaannya.
Perjudian itu terbayar lunas. Kombinasi visual memukau dan naskah jenius, ditambah pengisi suara sekelas Tom Hanks dan Tim Allen, membuat Toy Story meledak.
Mengutip data Biography, film ini meraup pendapatan 30 juta dolar AS pada pekan pembuka. Secara global, angkanya terus melaju hingga 365 juta dolar AS.
Saham Pixar pun meroket, menutup hari perdagangan pertamanya dengan valuasi perusahaan mencapai 1,5 miliar dolar AS.
Mengubah Wajah Industri Selamanya
Kesuksesan Toy Story pada 1995 memaksa industri animasi putar haluan.
Melansir EDN, sekuel-sekuelnya terus mencetak rekor baru. Toy Story 2 menjadi film pertama yang sepenuhnya dibuat dan ditayangkan secara digital.
Sementara itu, Toy Story 3 (2010) mencatatkan diri sebagai film animasi pertama yang menembus pendapatan 1 miliar dolar AS di seluruh dunia.
Lebih dari sekadar angka, waralaba ini membuktikan tesis Steve Jobs dan Ed Catmull: teknologi hanyalah alat, namun cerita adalah rajanya.
Pada 2006, Disney akhirnya mengakuisisi Pixar senilai 7,4 miliar dolar AS. Namun, warisan terbesar Jobs bukanlah nilai transaksi tersebut, melainkan keberaniannya memodali mimpi sekelompok insinyur dan seniman "gila".
Hari ini, setelah tiga dekade berlalu, petualangan Woody dan Buzz tetap relevan. Mereka menjadi tonggak sejarah di mana imajinasi manusia berhasil melampaui batasan teknologi, membawa penonton menuju "tak terbatas, dan melampauinya".**