Platform
digital kini menjadi pintu utama masyarakat memperoleh berita, terutama
generasi muda.
Foto 1 Seseorang yang membaca berita melalui gawai.
Konsumsi
Berita Beralih ke Media Sosial
narastaari.com, Depok - Lebih dari
180 juta jiwa pengguna internet di Indonesia kini memperoleh berita melalui
media sosial. Digital News Report 2025 dari
Reuters Institute
mencatat, 57 persen masyarakat Indonesia mengandalkan TikTok, WhatsApp, hingga
Instagram sebagai sumber utama informasi.
Tren ini menegaskan bahwa media sosial bukan hanya
hiburan, tetapi juga pintu masuk utama masyarakat dalam memperoleh berita.
TikTok, misalnya, kini tidak sekadar dipakai untuk hiburan singkat, melainkan
juga menjadi ruang munculnya konten analisis politik, berita lokal, sampai
liputan investigasi dalam bentuk potongan video.
Instagram dan WhatsApp pun mengalami pergeseran
fungsi; dari awalnya sarana komunikasi personal, kini berubah menjadi jalur
penyebaran informasi aktual.
Foto 2 Data Digital News Report 2025 yang menunjukkan
persentase sumber berita di Indonesia.
Data
Penggunaan Internet Indonesia
Berdasarkan APJII Survei Internet 2025, penetrasi
internet Indonesia mencapai 80,66%, atau sekitar 229,4 juta jiwa. Sebelumnya,
pada 2024, penetrasi internet tercatat 79,5% (±221 juta orang) menurut APJII.
Angka ini memperkuat data dari We Are Social & Meltwater yang menunjukkan bahwa pengguna
internet Indonesia besar — dan terus tumbuh.
Generasi muda (Gen Z, milenial) menjadi kontributor
utama tren ini, terutama karena mereka merupakan kelompok yang paling cepat
mengadopsi teknologi baru.Tidak hanya itu, laporan We Are Social 2025
juga menekankan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam
10 menit per hari di media sosial. Artinya, platform digital telah menjadi
ruang publik baru tempat masyarakat mendiskusikan isu sosial, politik, hingga
ekonomi. Media berita yang tidak mampu hadir di ruang ini jelas berisiko
ditinggalkan.
Foto 3
Grafik batang yang menunjukkan tren penetrasi internet dari tahun ke tahun.
Tantangan
Besar Media Jurnalistik di Era Media Sosial
·
Persaingan
Distribusi Konten
Algoritma sosial media “memfilter” konten berdasarkan preferensi pengguna.
Berita dari portal bisa tersisih jika tidak tampil cukup menarik atau relevan.
Media kini dituntut kreatif: judul harus singkat, visual harus kuat, dan
informasi harus padat agar bisa bersaing dengan konten lain yang sama-sama
memperebutkan atensi pengguna.
·
Menurunnya
Kepercayaan Publik & Melawan Hoaks
Banyak pengguna awam sulit membedakan antara media kredibel dan konten kreasi
individu. Menurut AJI, jurnalis harus menegaskan etika dan profesionalisme agar
tidak tergoda menyebarkan konten “viral” demi engagement semata.
Kemenkominfo
mencatat bahwa selama 17 Juli 2023 – 6 Januari 2024 terdapat 160 isu hoaks yang
tersebar lewat 2.623 konten media sosial. Isu ini berhubungan dengan politik,
kesehatan, dan ekonomi. Sebuah studi “Analisis Kriminologi Visual
terhadap Konten Hoaks Politik”
bahkan meneliti bagaimana AI digunakan dalam pembuatan hoaks di Indonesia pada
2023–2024. Tantangan bagi media adalah melawan arus disinformasi ini tanpa
kehilangan kecepatan dalam pemberitaan.
Mengapa
Generasi Muda Lebih Memilih Media Sosial
Survei APJII 2025 juga menunjukkan bahwa aktivitas utama masyarakat di internet berkaitan dengan media sosial (sekitar 24,8 %) dibandingkan membaca berita daring (15,04 %). Hal ini menggambarkan bahwa membaca artikel panjang semakin kalah dengan menonton video singkat atau melihat infografis visual.
Generasi
muda tumbuh di era multitasking. Mereka terbiasa membuka beberapa aplikasi
sekaligus, menonton video sambil berinteraksi di grup, dan mengonsumsi
informasi secara cepat. Format konten singkat (video, reels, infografis) lebih
menarik dibandingkan membaca artikel panjang di portal berita. Inilah yang
menjelaskan kenapa media tradisional harus mengubah format penyajian agar
relevan.
Selain
itu, media sosial juga memberi ruang interaktif. Komentar, like, atau share
menjadi bentuk keterlibatan langsung yang jarang ditawarkan oleh media
konvensional. Hal ini membuat generasi muda merasa “dekat” dengan isu yang
dibicarakan.
Foto 4
Perbandingan persentase akses media sosial vs membaca berita daring.
Prediksi
Perkembangan Jurnalisme ke Depan
·
Dominasi
konten visual interaktif
— video pendek, infografis, live streaming akan semakin sering digunakan. Media
berita nasional seperti Kompas dan Tempo sudah mulai aktif menghadirkan berita
versi singkat khusus untuk TikTok dengan format human interest dan ringkasan
berita harian.
·
Distribusi
langsung via platform media sosial
— bukan sekadar menunggu pembaca datang ke portal, melainkan aktif “masuk ke
ruang mereka”. Bahkan, beberapa redaksi membuat tim khusus untuk mengelola
TikTok dan Instagram.
·
Kredibilitas
sebagai pembeda utama
— media yang menjaga kecepatan dan akurasi akan tetap dicari. Kepercayaan
publik akan menjadi modal terpenting ketika banyak informasi simpang siur.
·
Penerapan
AI secara bertanggung jawab
— media perlu menyusun kebijakan penggunaan AI agar tak memicu hoaks.
Wamenkominfo mengajak insan pers untuk merumuskan panduan penggunaan AI
sehingga media tidak “kalah dengan teknologi”.
Dampak
Pergeseran Konsumsi Berita
Dampak
positif:
- Akses lebih cepat ke berita
- Inti dari berita bisa
ditangkap dalam waktu singkat
Dampak
negatif:
- Tingginya risiko disinformasi
/ hoaks
- Pengguna bisa terperangkap
dalam echo chamber, hanya konsumsi konten yang sesuai selera
- Diskusi publik bisa menyempit
karena sudut pandang terbatas
Kesimpulan:
Media Harus Bertahan dan Berinovasi
Media
sosial sekarang adalah jalur utama berita di Indonesia. Generasi muda
menjadikannya pintu utama informasi, sehingga media berita harus memadukan
kecepatan, kreativitas, dan kredibilitas agar tetap relevan.
Jika gagal
beradaptasi, portal berita bisa ditinggalkan dan perannya digantikan oleh
konten kreator yang belum tentu memiliki standar etika jurnalistik. Namun, jika
berhasil, media justru bisa memanfaatkan platform digital untuk memperluas
jangkauan sekaligus menjaga kualitas informasi publik.
Link artikel:
https://netralnews.com/masa-depan-jurnalisme-indonesia-di-era-media-sosial/WXBsZFZNSzhQR0YzTWY3RmpPd2k4QT09