![]() |
| Ruangan kelas kosong/Sumber: Dokumentasi Pribadi |
narastari, Depok - “Saya menjelaskan materi di sini untuk membantu kalian, karena saya tahu kalian nggak akan baca materi dari saya” ucap dosen, suaranya terdengar nyaring di keheningan ruang kelas. Kalimat yang terucap mampu menyentakku dan langsung memasang mata ke arahnya.
Pagi itu, dalam ingatanku aku duduk di barisan belakang bersama teman-temanku. Barisan lainnya 26 mahasiswa sudah mengisi bangku-bangku kosong. Tapi entah mengapa suasana kelas terasa hampa. Aku hadir, tapi sekilas kehilangan fokus yang seharusnya berada di sana.
Pak Azhmy, dosen “Penulisan Feature” hadir di kelas. Ia berdiri di depan mejanya sambil membacakan materi yang ada di layar proyektor. Sambil melihat ke arah mahasiswa satu per satu ia mengulang pola bagaimana ia menjelaskan materi dengan membaca, menjelaskan, dan menanyakan kejelasan dari materi pada mahasiswa. Tak ada tangan yang di angkat maupun bunyi pertanyaan. Hal itu membuatnya melanjutkan materi. Aku tak menampik fakta bahwa aku bahkan hanya berusaha memahami materi dengan mengangguk pelan menunjukkan aku sudah paham.
Masih berlanjut penjelasan pak Azhmy, aku menengok kanan dan kiri melihat teman-temanku ada yang sedang mengecek ponsel dan ada yang hanya menunduk. Aku tak tahu keputusan apa yang mereka pilih hingga melakukan hal yang aku sebutkan. Dalam benakku, aku merasa bahwa kami cukup acuh pada penjelasan mata kuliah saat itu.
Aku bukannya takut untuk mengangkat tangan, meski sebenarnya ingin mengucapkan pertanyaan. Tetapi, aku akan bertanya hal yang telah ku ketahui jawabannya. Aku merasa menyesal karena tak ikut andil merespons pak Azhmy. Karena aku tahu, pasti akan terasa bosan jika berbicara tapi tak ada yang merespons. Hal itu termasuk dalam sikap berbudi pekerti dan aku selalu berusaha menerapkannya. Namun aku menyadari, ternyata aku masih belum sepenuhnya menghargai seseorang yang sedang berbcara.
Kulihat ponselku yang menunjukkan pukul 11 siang, perutku sudah meraung-raung menunggu makanan datang. Rasanya ada jarak yang semakin jauh antara otakku yang ingin mendapatkan ilmu dan perutku yang meminta makan. Mereka bertarung dan aku menjadi penengahnya. Di sisi lain, pak Azhmy mungkin dapat melihat bahwa aku kehilangan fokus. Aku tak tahu bagaimana ia bisa bertahan menyampaikan materi dengan perlahan dan sabar, padahal aku yang mendengar merasa sulit untuk tetap fokus.
belum sempat aku memenangkan otakku bertarung dengan perut, mataku menjadi peserta baru. Jika diibaratkan listrik, mataku hanya tersisa 5 watt. Aku kembali menguatkan diriku, membantu otakku memenangkan pertarungan ini. Kemudian kulihat raut wajah pak Azhmy, lelah namun bukan seperti kelelahan bertarung sepertiku atau berdiri terlalu lama. Menurutku, ia lelah karena berbicara pada dinding.
Keheningan terjadi, aku tak mendengarnya bicara. Setelah itu ia kembali berbicara. “Udah main hp-nya? Masih mau mendengarkan?”. Aku yang sedang memperhatikannya, merasa tertampar. Walaupun aku tak melihat ponsel, tapi aku tetap merasa ia kecewa karena tak diperhatikan.
Ucapannya mengendap di udara kelas dan menambah keheningan. “Saya menjelaskan materi di sini untuk membantu kalian, karena saya tahu kalian nggak akan baca materi dari saya” ucapnya. Aku pikir benar, aku mungkin akan tak sepaham ketika ia menjelaskan materi jika aku membacanya sendiri.
Suara pendingin ruangan menyaut keheningan. Daun pada pohon di luar gedung melambai pelan ke arah kelas. Ruangan terasa sesak meski luas. Tak sengaja ucapannya kini bertahan di kepalaku seolah ia ingin terus bersamaku. Mungkin agar aku terus merasa bersalah atas sikapku.
“Masih mau belajar? masih butuh materinya?” tanya pak Azhmy dengan perlahan. Kami sekelas menyaut “masih pak”, “oke kita lanjut” lanjutnya. Kulihat materi di layar proyektor masih panjang, aku membaca perlahan teksnya. Aku tak ingin terus-menerus berada di zona nyamanku dengan hanya menunggu pak Azhmy membacakan dan menjelaskan.
Setelah waktu berlalu, perkuliahan berakhir. Aku menoleh ke arah teman-temanku dan tersenyum. Aku kembali melihat ke arah dosenku dan mulai berpikir. “Apakah aku benar-benar belajar dengan benar?” Rasanya aku akan terus mengingat kejadian hari ini. Agar aku ingat bahwa menjadi manusia yang bisa mendengarkan dan tahu cara menghargai adalah hal terpenting ketika di kelas. (*)
Ceritakan pengalaman serupa di kolom komentar!
